BU KEK KANG SINKANG PDF

Bu Kek Kang Sinkang Udara siang hari cerah. Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi. Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah. Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain.

Author:Gulmaran Arashizragore
Country:Czech Republic
Language:English (Spanish)
Genre:History
Published (Last):4 July 2012
Pages:408
PDF File Size:8.58 Mb
ePub File Size:12.92 Mb
ISBN:961-4-87404-168-1
Downloads:38861
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tojajinn



Bu Kek Kang Sinkang Udara siang hari cerah. Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi. Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah.

Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain. Urusan yang dapat menimbulkan keangkeran ketua siaulimsi beserta anggota LoHanTin yang melangkah perlahan dibelakangnya. Tidak seorangpun menghiraukan pemandangan indah disekelilingnya.

Mereka seperti menanggung beban berat. Ditilik dari usia mereka yang diatas 50 tahun, tentu berbekal kekuatan batin paling tidak hasil latihan puluhan tahun, namun mereka tetap tidak berhasil menghilangkan rasa kuatir, malu, geram yang jelas tertera di wajah mereka.

Jumlah mereka tidak sedikit, namun mereka berjalan tanpa menimbulkan suara, bergerak kearah belakang kuil dan berhenti didepan pondok mungil tapi terawat. Pondok itu terbuat dari bambu, dengan sebuah pintu ditengah yang tertutup rapat. Sangat menyolok bedanya dengan bangunan siaulimsi yang lain yang dibuat dari batu yang kokoh. Walau terawat, bagaimanapun juga pondok itu kelihatan sudah tua sekali, terlihat lapuknya batang bambu disana sini.

Siapapun penghuninya, tentu usianya sudah tidak muda. Sekitar sepuluh kaki dari pondok itu, Pek Bin Siansu menghentikan langkahnya. Hanya satu kali Pek Bin Siansu berseru. Nampaknya tidak berminat untuk mengulangi ucapannya. Ia hanya diam mematung. Tidak seorangpun bergerak maupun bersuara. Hanya gerak jubah dan suara pakaian yang tertiup angin mengisi kekosongan yang mencekam.

Waktu seakan berhenti, toh tetap tidak dapat mencegah turunnya matahari ke arah barat. Sudah lima kentungan berbunyi, sore hari telah tiba. Pemandangan ratusan orang berdiri bagaikan patung tidak juga berubah. Seekor burung gagak hitam hinggap di pundak Pek Bin Siansu.

Bertengger dengan tenang sambil menguak suaranya yang khas. Apakah bayangan kematian mulai menghantui siaulimsi? Timbul perasaan yang sukar dijelaskan di hati kecil Pek Bin Siansu. Apakah ia mengambil keputusan yang tepat? Burung gagak terbang terlonjak kaget ketika pintu pondok berderit terbuka dan sesosok tubuh berkelabat cepat didepan Pek Bin Siansu.

Tubuh kurus dibungkus baju biru lusuh duduk bersila diatas sehelai ikat pinggang yang panjang menegak lurus kebawah menusuk batu keras di pelantaran siaulimsi. Tubuh kakek tua itu yang hanya ditopang kain yang mengeras, mengambang dan bergoyang mengikuti geraknya angin gunung. Sungguh mengagumkan kesempurnaan tenaga dalam kakek tua itu. Pek Bin Siansu mengangkat kepalanya dengan kaget. Goan Kim Taysu terkenal sebagai manusia yang paling berbakat di siaulimsi selama seratus tahun terakhir. Sepengetahuannya, sepanjang sejarah, dia lah satu satunya yang dapat menguasai 72 macam ilmu kepandaian siaulimsi sekaligus.

Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di siaulimsi, dia yakin betul pendiri sialimsi menciptakan 72 macam kepandaian. Dari mana datangnya Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga? Tidak heran kau walau sebagai ketua pun tidak pernah mendengarnya.

Goan Kim Taysu nampak murung, kecewa, seperti dirudung persoalan pelik, tapi dengan cepat ia menarik napas panjang dan senyumnya pulih kembali. Sungguh tinggi kekuatan batin kakek tua ini, satu tarik nafas telah mengusir kegalauan hatinya. Dengan perasaan berat, Pek Bin Siansu mengiakan. Goan Kim Taysu telah menutup diri selama tiga puluh tahun dan ia telah merusak ketenangan supeknya.

Ia harus menganggunya karena dia tidak melihat jalan lain. Tiga bulan yang lalu terjadi suatu peristiwa yang luar biasa di kuil siaulimsi.

Mereka kedatangan tamu. Enam orang tamu yang mempunyai status cukup istimewa. Mereka merupakan ketua perkumpulan besar dari Bu tong pay, Kho tong pay, Hoa san pay, Thian san pay, Kun lun pay, dan kaypang saat ini.

Walau hubungan mereka cukup baik dan suka berkunjung satu sama lain, belum pernah enam ketua perkumpulan berkunjung bersamaan sekaligus. Kecuali…yaaa, kecuali terjadi satu urusan yang janggal yang memaksa mereka berkumpul. Cangkir kemala antik tanpa dapat dicegah lagi, berhamburan pecah, air teh menciprat kemana mana. Ouw Hek Tong berperawakan sedang tapi kekar. Berangasan, tapi mempunyai keberanian yang luar biasa. Pernah seorang diri dia melawan enam puluh penjahat yang telah membunuh muridnya.

Komplotan penjahat yang rata rata berkepandaian tinggi itu toh tidak ada satupun yang hidup, walau dirinya pun mengalami luka luka berat. Selama bisa maju, kenapa mesti mundur…prinsip sederhana ini membuat Ouw Hek Tong terkenal akan nekadnya berkelahi. Sekarang ia telah berdiri siap melabrak ketua Siaulimsi yang ia tahu memilki kepandaian yang luar biasa.

Tanpa banyak bicara, Ouw Hek Tong menggerakan tanganya melancarkan serangan dengan telapak tangan terbuka. Angin menderu mengandung kekuatan merusak kearah Pek Bin Siansu yang tubuhnya melayang mengikuti derunya angin. Bagai sehelai daun, kaki Pek Bin Siansu menyentuh tanah sekitar enam kaki dari mereka.

Thian Ki Totiang mengambil sebuah kotak dari saku bajunya, kemudian melontarkannya ke arah Pek Bin Siansu. Kotak itu melayang dengan perlahan seperti ada tangan yang sedang menyuguh. Berenam mereka saling melirik. Muka mereka berubah hebat. Sukar dibayangkan jika terjadi bentrokan antar mereka yang jelas akan menggoncangkan dunia persilatan. Murid murid mereka yang banyak merantau tentu tidak tinggal diam, entah bencana apa yang bakal terjadi.

Pek Bin Siansu melirik kotak tersebut dan membukanya dengan perlahan. Isinya ternyata hanya beberapa helai daun siong yang kering. Enam helai daun itu memiliki simbol sama yang tertera jelas. Bukan diatas daun, simbol itu tergores kedalam seperti dipahat tanpa merusak dasar sisi bawah permukaan daun.

Berubah hebat muka Pek Bin Siansu. Memang hanya tenaga jari Kim Kong Ci yang mampu melakukan hal ini. Tiba tiba jari telunjuknya melentik kearah tembok batu bangunan berjarak sekitar sepuluh kaki dari tempat berdirinya.

Desah kagum terdengar dari mereka yang menyaksikan. Muka mereka berubah tenggelam. Sungguh hebat demonstrasi tenaga jari Kim Kong Ci, ketua Siaulimsi ini. Simbol yang tertera di daun ini, jelas dicukil dengan hawa tenaga jari. Goresannya mempunyai kedalaman yang sama, licin dan rata. Dasar daunpun pun tidak robek. Thian Ki Totiang terdiam. Dari bentrokan barusan, ia dapat mengukur tenaga dalam Pek Bin Siansu walau lebih tinggi paling hanya setengah atau satu tingkat darinya.

Ia yakin Pek Bin Siansu berkata dengan jujur. Sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi? Ternyata, kitab kitab pusaka enam partai besar yang disimpan diruang rahasia, siang malam dijaga ketat telah hilang begitu saja. Si pencuri tidak menganggu benda benda pusaka lainnya, hanya semua kitab silat lenyap tanpa ketahuan rimbanya. Sehelai daun siong kering ditinggalkan di rak buku yang kosong di tiap ruang kitab keenam partai.

Thian Ki Totiang ketua Butongpay menangkap masuknya. Sulit dipercaya orang lain dapat memasuki ruang kitab tanpa sepengetahuan kami. Karena kami benar benar tidak dapat menerka, selain Siaulimsi, siapa di dunia persilatan jaman ini yang mempunyai tenaga jari sedahsyat ini! Dengan perlahan Thian Ki Totiang menerangkan bahwa ruang kitab di Bu tong pay dijaga ketat oleh sam go beng yang pernah mengalahkan Kiu tok sin mo, raja iblis yang mengobrak abrik dunia persilatan tiga puluh tahun yang lalu.

Bisa dibayangkan betapa sempurnanya kepandaian sam go beng yang berhasil menaklukan Kiu tok sin mo dalam lima ratus jurus. Tanpa terasa dahi Pek Bin Siansu berkerenyit. Sembilan tangan raja pengemis adalah rajanya pencuri. Berkepandaian tinggi walau tidak sehebat sam go beng, keahlian kay ong dalam mencuri tiada bandingannya.

Di propinsi Kang Lam, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan berulang kali panen gagal. Rakyat kelaparan, kay ong berhasil mencuci habis sembilan gudang persedian beras yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah. Rajanya pencuri yang bertanggung jawab atas ruang kitab ternyata kebobolan. Sungguh berita ini sukar dipercaya. Ang lee Siansu, wakil ketua siaulimsi, tiba tiba muncul diruang pertemuan.

Tidak lama kemudian, Mo tiang Siansu muncul kemudian bersimpuh dengan air mata yang bercucuran. Potong Pek Bin Siansu sambil mengambil helaian daun dari sutenya.

FUNDAMENTALS OF PHOTONICS BAHAA E A SALEH PDF

Bu Kek Kang Sinkang

Yg jadi pertanyaan, apa dia botak karena pinter, atau pinter karena botak? HKPnya begitu ada kesempatan diketik lanjut Mengenai ayam dan telur Kabeh-heng finally post ke Indozone Untuk yang belum baca Saya sering melihat judul Bu Kek Kang Sinkang di serialsilat, namun malam bacanya. Minggu lalu saya iseng-iseng baca di sini, di indozone itu pun karena terpengaruh nama kkabeh yang emailnya sering muncul di sebuah milis penggemar cerita silat.

GAME CHANGE JOHN HEILEMANN PDF

Goresan diSehelai Daun

Harap diceritakan ada urusan apakah yang kiranya dapat kami bantu, dan harap jangan membawa-bawa nama Pulau Es. Ada urusan apakah yang menyangkut Pulau Es? Mendengar ini Tee-tok tersenyum dan memandang. Gerakan pedang Nona tadi hebat bukan main

KRUPP KMK 5090 PDF

BU KEK KANG SINKANG

.

Related Articles