INKONTINENSIA ALVI PADA LANSIA PDF

Inkontinensia alvi adalah suatu kondisi di mana penderitanya tidak dapat mengontrol keinginan untuk buang air besar. Normalnya, keinginan BAB bisa ditahan hingga beberapa waktu. Ketika makan, kita menghasilkan kombinasi makanan yang tidak tercerna, bakteri, dan sel-sel mati dalam bentuk padat. Kombinasi ini disebut feses.

Author:Fenriran Dimi
Country:Singapore
Language:English (Spanish)
Genre:Music
Published (Last):23 October 2005
Pages:324
PDF File Size:11.10 Mb
ePub File Size:16.93 Mb
ISBN:826-1-23313-709-5
Downloads:27920
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kilmaran



Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan kehidupan itu sendiri. Banyak ahli filsafat, psikologis, dan fisiologis menguraikan kebutuhan manusia dan membahasnya dari berbagai segi. Orang pertama yang menguraikan kebutuhan manusia adalah Aristoteles. Pemenuhan kebutuhan nutrisi akan sangat membantu seseorang untuk mempertahankan kondisi tubuh dalam mencegah terjadinya suatu penyakit, mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi yang normal serta menghindari proses infeksi.

Nutrient adalah suatu zat yang terkandung dalam makanan misalnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.

Nutrient atau kandungan zat yang terdapat dalam makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terdiri dari 6 kategori, yaitu : karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Nutrisi normal meliputi keseimbangan antara intake makanan yang di makan dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Intake nutrisi yang adekuat pada usia toddler dan pra sekolah 1—5 tahun sangat diperlukan, karena pada usia tersebut merupakan fase pertumbuhan fisik dan perkembangan yang pesat, sehingga kebutuhan nutrisi juga akan berbeda dengan usia-usia yang lain.

Disamping itu pada fase ini, anak akan cenderung aktif dan merasa kehilangan nafsu makan karena rasa suka dan tidak suka terhadap suatu makanan. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pada usia ini termasuk diantaranya adalah zat besi untuk mencegah anemi, serta vitamin A dan C untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit.

Kemampuan untuk mengabsorbsi makanam, keadaan fisik seperti peradangan pada sistem gastro intestinal, obstruksi pada gastro intestinal dan malabsorbsi serta diabetes melitus akan menyebabkan gangguan dalam mengabsorbsi zat-zat makanan, sehingga juga akan menyebabkan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi Eliminasi fecal atau defekasi merupakan proses pembuangan metabolisme tubuh yang tidak terpakai.

Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh normal. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk usus adalah racun.

Pola defekasi bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai beberapa kali seminggu. Jumlah feses yang dikeluarkan pun berfariasi jumlahnya tiap individu. Feses normal berwarna coklat karena adanya sterkobilin dan uriobilin yang berasal dari bilirubin.

Warna feses dapat dipengaruhi oleh kerja bakteri Escherecia coli. Flatus yang dikelurkan orang dewasa selama 24 jam yaitu liter flatus dalam usus besar.

Kerja mikroorganisme mempengaruhi bau feses. Fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan Berman, et. Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada pasien geriatri.

Angka kejadian inkontinensia alvi ini lebih sedikit dibandingkan pada kejadian inkontinensia urin. Inkontinensia alvi merupakan hal yang sangat mengganggu bagi penderitannya, sehingga harus diupayakan mencari penyebabnya dan penatalaksanaannya dengan baik.

Seiring dengan meningkatnya angka kejadian inkontinensia urin, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula peningkatan angka kejadian inkontinensia alvi.

Untuk itu diperlukan penanganan yang sesuai baik untuk inkontinensia urin maupun inkontinensia alvi, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih sulit lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Berikut ini akan dibahas mengenai inkontinensia alvi dan penanganannya. Mulut merupakan suatu membran mukosa yang terdiri dari pipi berfungsi sebagai otot pengunyah , lidah, dan kelenjar saliva yang berfungsi memudahkan makaan untuk dikunyah gigi.

Faring merupakan tuba fibromuskular yang melekat pada dasar tulang tengkorak, berfungsi membawa makanan melewati orofaring dan laring menuju esofagus. Esofagus adalah tube muskular yang bertujuan membawa makanan ke lambung. Usus besar berfungsi mengabsorbsi air, natrium dan klorida serta mensekresi kalium.

Organ tambahan yang terdapat dalam sistem digestive namun keluar dari sistem gastrointestinal adalah pankreas. Sistem tubuh yang berperan dalam eliminasi alvi buang air besar adalah gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus bear.

Batasan antara usus besar dan usus halus adalah katup ileocaecal. Kolon sigmoid mengandung feses yang sudah siap untuk dibuang dan diteruskan kedalam rektum. Makanan yang diterima oleh usus dari lambung dalam bentuk setengah padat atau dikenal dengan nama chyme,baik berupa air,nutrien,maupun elektrolit kemudian akan diabsorbsi. Otot lingkar sfingter bagian dalam dan luar saluran anus menguasai pembyangan feses dan gas dari anus.

Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut dengan buang air besa. Feses terdiri ats sisa makanan seperti selulosa yang tidak direncanakan dan zat makanan lain yang seluruhnya tidak dipakai oleh tubuh,berbagai macam mikroorganisme,sekresi kelenjar usus,pigmen empedu,dan cairan tubuh. Secara umum terdapat dua macam refleks dalam membantuproses defekasiyaitu rileks defekasi intrinsik yang dimulai dengan adanya zat sisa makanan rektum dalam rektum sehungga terjadi distensi.

Inkotinensia alvi adalah ketidakmampuan seseorang dalam menahan dan mengeluarkan tinja pada waktu dan tempat yang tepat. Inkontinensia dapat diklasifikasikan menjadi soil kehilangan mukus , insufisiensi tidak ada kontrol gas dan diare , dan inkontinensia tidak ada kontrol untuk membentuk feses padat.

Klasifikasi lain membagi inkontinensia menjdai inkontinensia minor dan inkontinensia mayor. Inkontinensia mayor adalah keadaan tidak dapat mengontrol membentuk konsistensi tinja yang normal. ETIOLOGI Penyebab utama timbulnya inkotinensia alvi adalah masalah sembelit, penggunaan pencahar yang berlebihan, gangguan saraf seperti demensia dan stroke, serta gangguan kolorektum seperti diare, neuropati diabetik, dan kerusakan sfingter rektum.

Konstipasi atau sembelit merupakan kejadian yang paling sering timbul pada pasien geriatri dan bila menjadi kronik akan menyebabkan timbulnya inkontinensia alvi. Skibala akan mengiritasi rektum dan menghasilkan mukus dan cairan. Cairan ini akan membanjiri tinja yang mengeras dan mempercepat terjadinya inkontinensia. Konstipasi sulit untuk didefinisikan dan secara teknik biasanya diindentikkan dengan buang air besar sebanyak tiga kali dalam seminggu. Penyebab inkontinensia alvi dapat dibagi menjadi 4 kelompok Brocklehurst dkk, ; Kane dkk, : 1.

Inkontinensia alvi akibat konstipasi 2. Inkontinensia alvi simtomatik, yang berkaitan dengan penyakit pada usus besar. Inkontinensia alvi akibat gangguan kontrol persyarafan dari proses defekasi inkontinensia neurogenik. Inkontinensia alvi karena hilangnya refleks anal. Namun demikian beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang melambat. Peristaltic di esophagus kurang efisien pada lansia.

Selain itu, sfingter gastroesofagus gagal berelaksasi, mengakibatkan pengosongan esophagus terlambat. Motalitas gaster juga mnurun, akibatnya terjadi keterlambtan pengososngan isis lambung. Berkurangnya sekresi asam dan pepsin akan menurunkan absorsi besi, kansium dan vitamin B Absorsi nutrient di usus halus nampaknya juga berkurang dengan bertambahnya usia namun masih tetap adekuaT.

Fungsi hepar, kandung empedu dan pangkreas tetap dapat di pertahankan, meski terdapat inefisiensi dalam absorsi dan toleransi terhadap lemak.

Impaksi feses secara akut dan hilangnya kontraksi otot polos pada sfingter mengakibatkan inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi akibat konstipasi Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras, atau keluarnya tinja terlalu kering dan keras. Batasan dari konstipasi obstipasi masih belum tegas.

Secara teknis dimaksudkan untuk buang air besar kurang dari tiga kali per minggu. Tetapi banyak penderita sudah mengeluhkan konstipasi bila ada kesulitan mengeluarkan feses yang keras atau merasa kurang puas saat buang air besar Kane dkk, Konstipasi sering sekali dijumpai pada lanjut usia dan merupakan penyebab yang paling utama pada inkontinensia alvi pada lanjut usia Brocklehurst dkk, Masa feses yang tidak dapat keluar ini akan menyumbat lumen bawah dari anus dan menyebabkan perubahan dari besarnya sudut ano-rektal.

Kemampuan sensor menumpul dan tidak dapat membedakan antara flatus, cairan atau feses. Akibatnya feses yang cair akan merembes keluar Broklehurst dkk, Skibala yang terjadi juga akan menyebabkan iritasi pada mukosa rektum dan terjadi produksi cairan dan mukus, yang selanjutnya melalui sela-sela dari feses yang impaksi akan keluar dan terjadi inkontinensia alvi Kane dkk, Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, antara lain meraba adanya skibala pada colok dubur.

Inkontinensia alvi simtomatik Inkontinensia alvi simtomatik dapat merupakan penampilan klinis dari macam-macam kelainan patologik yang dapat menyebabkan diare.

Keadaan ini mungkin dipermudah dengan adanya perubahan berkaian dengan bertambahnya usia dari proses kontrol yang rumit pada fungsi sfingter terhadap feses yang cair, dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair Brocklehurst dkk, Penyebab lain dari inkontinensia alvi simtomatik misalnya kelainan metabolik, contohnya diabetes mellitus, kelainan endokrin seperti tiroksikosis, kerusakan sfingter anus sebagai komplikasi dari operasi hemoroid yang kurang berhasil dan prolapsus rekti.

Proses normal dari defekasi melalui refleks gastro-kolon. Distensi rektum akan diikuti relaksasi sfingter interna. Bila buang air besar tidak memungkinkan, maka hal ini tetap ditunda dengan inhibisi yang disadari terhdap kontraksi rektum dan sfingter eksternanya.

Pada lanjut usia dan terutama pada penderita dengan penyakit serebrovaskuler, kemampuan untuk menghambat proses defekasi ini dapat terganggu bahkan hilang. Karakteristik inkontinensia neurogenik ini tampak pada penderita dengan infark serebri multipel, atau penderita demensia. Gambaran klinisnya ditemukan satu-dua potong feses yang sudah berbentuk ditempat tidur, dan biasanya setelah minum panas atau makan.

Inkontinensia alvi akibat hilangnya refleks anal Inkontinensia alvi ini terjadi akibat hilangnya refleks anal, disertai kelemahan otot-otot seran lintang. Parks, Henry dan Swash dalam penelitiannya seperti dikutip oleh Brocklehurst dkk, , menunjukkan berkurangnya unit-unit yang berfungsi motorik pada otot-otot daerah sfingter dan pubo-rektal. Keadaan ini menyebabkan hilangnya refleks anal, berkurangnya sensasi pada anus disertai menurunnya tonus anus.

Hal ini dapat berakibat inkontinensia alvi pada peningkatan tekanan intra-abdomen dan prolaps dari rektum. Pengelolaan inkontinensia ini sebaiknya diserahkan pada ahli proktologi untuk pengobatannya Brocklehurst dkk, Inkontinensia alvi akibat konstipasi kolonik Konstipasi kolonin merupakan keadaan individu yang mengalamai atau beresiko mengalami perlambatan pasase residu makanan yang mengakibatkan feses kering dan keras.

Tanda Klinis :.

LAVYRLE SPENCER THEN CAME HEAVEN PDF

Inkontinensia Alvi

Jika inkontinensia urine terjadi akibat kelainan inflamasi sistitis , mungkin sifatnya hanya sementara. Namun , jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis yang serius paraplegia , kemungkinan besar bersifat permanen. Bruner and suddart, Inkontinenensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi disertai pengeluaran feses. Inkontinensia urine merupakan dorongan tidak sadar untuk mengeluarkan urine yang dapat bersifat permanen maupun temporer yang dapat menjurus ke dalam gangguan emosional dan dapat mempengaruhi pola sosialisasi. Inkontinensia urin diklasifikasikan : 1 Inkontinensia Urin Akut Reversibel Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya.

FRANZ KAFKA PARABOLAS Y PARADOJAS PDF

Inkontinensia Urin 1. Pengertian Inkontinensia urin merupakan eliminasi urin dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan. Jika inkontinensia urin terjadi akibat kelainan inflamasi sistitis , mungkin sifatnya hanya sementara. Namun , jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis yang serius paraplegia , kemungkinan besar bersifat permanen. Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial. Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi disertai pengeluaran feses. Inkontinensia urin adalah keluhan rembesan urin yang tidak disadari.

JAMESON REIFICATION AND UTOPIA IN MASS CULTURE PDF

Pengobatan Pengertian Inkontinensia Alvi Inkontinensia alvi dikenal juga dengan nama inkontinensia feses. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol BAB buang air besar , sehingga feses atau kotoran keluar secara tidak terduga dari rektum. Inkontinensia alvi dapat berupa keluarnya feses dalam bentuk padat maupun cair. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada lansia dan wanita. Keluhannya pun cukup beragam, dari pengeluaran feses sesekali dalam jumlah sedikit saat buang angin hingga hilangnya kemampuan mengontrol BAB secara total. Kemampuan menahan BAB, dinamakan kontinensia, memerlukan fungsi normal dari rektum, anus, dan sistem saraf.

159R BUS SCHEDULE PDF

Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan kehidupan itu sendiri. Banyak ahli filsafat, psikologis, dan fisiologis menguraikan kebutuhan manusia dan membahasnya dari berbagai segi. Orang pertama yang menguraikan kebutuhan manusia adalah Aristoteles. Pemenuhan kebutuhan nutrisi akan sangat membantu seseorang untuk mempertahankan kondisi tubuh dalam mencegah terjadinya suatu penyakit, mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi yang normal serta menghindari proses infeksi.

Related Articles