KIFAYATUL AKHYAR PDF

E-kitab ini terdiri dari berbagai format file diantaranya. Kifayatul Akhyar fiy.. Kifayatul Akhyar Fathul Wahhab. Kitab Fathu Robbani dengan format Pdf..

Author:Gugul Shalar
Country:Pakistan
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):12 June 2012
Pages:414
PDF File Size:4.72 Mb
ePub File Size:2.45 Mb
ISBN:129-9-21458-194-3
Downloads:41689
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Megami



Kalau tidak dua bulan berturut-turut. Kemudian kalau tidak berkuasa, maka member makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Dan tidak halal mencampuri isterinya sampai ia membayar kafarat].

Kafarah dzihar ialah kafarat berurutan sesuai dengan ketentuan nash al-Quran al-Adzim. Allah SWT berfirman : 3 4 : Artinya : "Orang-orang yang mendzihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atas mereka memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Barang siapa yang tidak mendapatkan budak , maka wajib atasnya berpuasa 2 bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Bentuk kafarat ada tiga : 1. Memerdekakan budak Dalam melaksanakan kafarat pasti dengan niat, karena dalam hal ini telah tertera dalam hadits yang masyhur yang menentukan niat.

Dan oleh karena itu, kafarat adalah suatu tuntunan hak berupa harta yang diwajibkan untuk membersihkan, maka wajiblah padanya padanya niat seperti halnya zakat. Dan niatnya cukup dengan menyebut kaffarah saja, tidaklah disyaratkan menyebut wajibnya kafarat, karena kafarat itu tidak ada yang lain kecuali wajib saja.

Tetapi tidak cukup dengan berniat memerdekakan budak yang wajib tanpa menyebut kaffarah, karena memerdekan budak itu kadang-kadang wajib dengan sebab nadzar. Semisal wajib kepada seseorang kaffarah dzihar dan kaffarah jimak pada bulan Ramadhan , kemudian ia memerdekakan budak dengan niat kaffarah saja, maka kaffarah dianggap cukup bagi salah satu dari keduanya.

Demikian juga kalau ia menunaikan kaffarah dengan berpuasa atau memberi makan. Bedanya, ibadah badaniyah adalah lebih terbatas, karena hal itu tidak boleh diwakilkan, dan juga tingkat-tingkat kesulitan shalat tersebut berbeda-beda, seperti waktu shalat shubuh lebih sulit dan bilangan rakaat shalat dzuhur lebih banyak. Sedangkan antara kaffarah dzihar dan kaffarah jimak tidak ada perbedaan. Tetapi jika telah ditentukan kaffarah dalam sesuatu pelanggaran, maka tentulah kaffarah itu untuk pelanggaran tersebut, dan tidak boleh dialihkan kepada pelanggaran lainnya sesuai dengan apa yang telah ditentukan pada permulaannya.

Dan semisal seorang pada permulaannya menentukan kafaratudz dzihar, maka masih wajib ke atasnya kafarah dzihar, maka tidak boleh dipindahkan menjadi kafarah selain kafarah dzihar baik disengaja maupun karena keliru , sama halnya seperti kalau ia berniat zakat harta tertentu, kemudian harta itu rusak, maka tidak boleh dialihkan kepada yang lain.

Ada juga memerdekakan budak sebagai kaffarah pelanggaran tertentu tayin tidak mencangkup pengertian kaffarah-kaffarah yang lainnya. Apakah disyaratkan niat itu harus bersamaan dengan waktu memerdekakan dan memberi makan?. Di dalam tambahan kitab Ar-Roudhoh pada dasarnya memang disyaratkan. Dan ada yang berpendapat boleh mendahulukan niat sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah zakat. Dan dalam Syarah Al-Muhadzdzab dikatakan bahwa yang lebih shahih daripada dua wajah ialah boleh mendahulukan niat zakat dari masa memberikannya.

Sahabat-sahabat kami berpendapat bahwa kaffarah dan zakat dalam hal itu sama belaka. Inilah yang benar dan inilah menurut lahirnya nash. Demikian pendapat-pendapat sahabat kami. Perlu diketahui bahwa syarat diperbolehkannya mendahulukan niat dalam zakat adalah niat itu harus bersamaan dengan waktu memisahkan kadar harta untuk di zakatkan.

Demikian juga, apabila anda sudah mengetahui hal ini, maka hendaklah mengetahui bahwa disyaratkan budak yang akan mencukupi kaffarah ada 4 hal ; yaitu :a. Islam dan lafadz iman yang lebih utama karena lafadz tersebut adalah nash Al-Quran, b.

Bersih dari cacat-cacat yang dapat merugikan pekerjaan, c. Berstatus sebagai budak penuh, d. Dan sepi dari ganti rugi Dengan demikian tidak mencukupi memerdekan budak kafir untuk sesuatu kaffarah.

An - Nisa : 92 Dan alasan kami boleh saja dikiaskan kaffarah membunuh dengan kaffarah yang lain. Sedangkan Imam Syafii menyandarkan pernyataan mutlak kepada yang muqaiyad terbatas , dan ia menyerupakan halnya dengan firman Allah SWT :.

At -Thalaq : 2 2 " " Yang dimaksud dengan perkataan mushannif yang bersih dari cacat ialah yang merugikan pekerjaan dengan jelas, karena tujuannya dalam membayar kaffarah ialah menyempurnakan keadaan yang sepenuhnya untuk ibadah.

Sedangkan tugas orang-orang yang merdeka hanya berhasil berhasil apabila ia bebas dan dapat bekerja untuk mencukupi diri sendiri. Kalau tidak, maka sudah tentu ia terbebani atas dirinya sendiri dan atas orang lain. Dengan pengertian demikian jadi tidak cukup budak yang terlalu tua, orang gila pada sebagian besar waktunya, tetapi jika sadarnya lebih banyak, maka dapat mencukupi, dan juga tidak dapat mencukupi jika gila dan sadarnya sama banyak, menurut madzhab.

Bagi orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan sembuh, maka tidak mencukupi, dan jika masih bisa diharapkan sembuh maka boleh mencukupi. Dengan demikian ada sebuah kinayah kiasan yang perlu kita pahami, yang berbunyi: tidak cukup juga memerdekakan budak yang salah satu kakinya terputus dan juga budak yang terputus ibu jari tangannya.

Boleh mencukupi jikalau yang terputus jari selain ibu jarinya. Tidak mencukupi jika yang terputus dua jari telunjuk atau jari tengah, dan boleh mencukupi jika yang terputus jari kelingking pada sebelah tangan dan jari manis pada sebelah tangan lainnya. Tidak mencukupi jiak yang terputus kedua jari kelingking dan jari manis pada satu tangan, dan mencukupi jikalau yang tersemua jari manis pada satu tangan atau mencukupi jika yang terputus semua jari dari kedua belah kakinya.

Hal tersebut menurut qaul yang shahih. Dan juga mecukupi budak mudabbar dan budak yang kemerdekaannya digantungkan kepada sesuatu sifat. Sedangkan budak yang ghoib yang terputus beritanya tidak boleh mencukupi menurut madzhab.

Dan budak yang melarikan diri dan yang dirampas oleh orang lain, maka boleh mencukupi apabila diyakini hidup keduanya, menurut qaul yang shahih, karena statusnya budak penuh. Inilah yang shahih mengenai budak yang dirampas dan dipastikan oleh sebagian banyak ulama Iraq bahwasannya jikalau ia tidak berkuasa membebaskan diri, maka tidak boleh mencukupi, sama seperti budak yang sakit kronik1 karena tidak ada kemampuan lagi untuk bertindak tasharruf.

Dan diberitakan pula dari jumhur ulama Khurasan bahwa budak yang dirampas yang tidak berkuasa membebaskan diri boleh mencukupi karena milik dan manfaatnya sudah sempurna, dan itulah seperti myang diikuti Imam Rafii.

Adapun sepi dari ganti, maka sudah menjadi syarat semestinya. Semisal jikalau seseorang memerdekakan budak agar ia memperoleh kembali uang sedinar mas, maka tidak boleh mencukupi sebagai kaffarah, menurut qaul yang shahih. Sedangkan jikalau dia mensyaratkan ganti pada budak lain, misalnya ia berkata kepada seseorang,Aku merdekakan budakku ini, sebagai kaffarahku dengan seribu atasmu lalu diterima oleh orang itu.

Atau sebaliknyaseseorang berkata, Merdekakanlah dia budak itu sebagai kaffarahmu dan aku akan memberimu sekian lalu ia melakukannya, maka tidak boleh mencukupi kaffarah, Wallahu-alam. Puasa Barang siapa yang tidak mendapatkan budak, maka wajib ia berpuasa 2 bulan berturut-turut, sesuai dalil sebelumnya.

Sedangkan orang yang membutuhkan, karena kebutuhan itu meliputi sesuatuyang ada bersamanya, maka hukumnya seperti orang yang tidak mempunyai, atau sama seperti orang yang mendapatkan air, padahal ia membutuhkannya, maka hukunya berpindah kepada penggantinya. Demikian hal ini juga karena ijmak menetapkan bahwa berkemampuan tidak dapat mencegah pindah ke puasa karena membutuhkan.

Kalau ia sudah dapat melayani dirinya sendiri seperti orang-orang pertengahan, maka wajb memerdekakan menurut qaul yang rajih. Dan yang dimaksud dengan belanja adalah bahan pangannya dan pangan keluarganya, pakaian mereka dan kebutuhan lainnya seperti perabotan-perabotan rumah tangga, dan juga membeli budak yang di butuhkan sebagai pembantu. Dan apakah belanja dan pakaian itu ditentukan untuk masa tertentu?. Kata Imam Rafii, sahabat-sahabat kami tidak menentukannya; jadi boleh dihitung secukup usianya, dan boleh juga dihitung secukup satu tahun.

Pendapat AlBaghawi menguatkan bahwa orang tersebut boleh memperhitungkan sehelai baju musim dingin dan sehelai baju musim panas. Kata Imam Nawawi, yang benar ialah yang kedua, yakni secukup satu tuhan. Kata Ibnu Rifah, sahabat-sahabatnya menentang pendapat kedua berkenaan dengan kaffarah sumpah. Kata mereka apa yang diberitakan Al-Muhamili dan lainnya bahwa orang yang tidak berkecukupan selamanya, sekalipun ia mempunyai tanah yang produktif atau modal yang diusahakan dalam perdagangan, dan ia telah mendapat kecukupannya dengan kedua modal tersebut, meskipun modal itu tidak bertambah; jikalau untuk memperoleh seorang budak dengan menjual kedua modal tersebut niscaya menjadilah ia dalam kategori orang-orang miskin, maka tidak boleh dipaksa menjualnya, menurut madzhab yang ditetapkan oleh Jumhur Ulama.

Dan kalau orang tersebut mempunyai binatang ternak yang dapat menghasilkan susu, maka sama dengan mempunyai tanah yang produktif, jika penghasilannya tidak bertambah untuk memberi kecukupannya, tidak boleh dipaksa menjualnya. Dan kalau lebih hasilnya, maka wajib menjual kelebihannya. Demikian disebutkan oleh Al-Mawardi. Wallahu alam. Cabang Permasalahan Seseorang mempunyai harta kontan dan ia tidak mendapatkan budak atau mempunyai harta tetapi hartanya tidak di tanggannya ghaib , ia tidak boleh beralih kepada puasa untuk kaffarah membunuh, jimak di bulan Ramadhan , dan sumpah, tetapi ia menunggu sampai mendapat budak atau memperoleh hartanya yang ghaib, karena kaffarah boleh dibayar bertempoh, dan jikalau orangnya ditakdirkan mati, maka boleh dibayar dari harta peninggalannya.

Dan mengenai kaffarah dzihar ada dua wajah, karena suami akan merasakan mudharat dengan terhalangnya dari bersenang-senang. Imam Ghazali dan Al-Mutawalli menentukan untuk memberatkan wajibnya bersabar. Pernyataan ini adalah ungkapan di dalam kitab Ar-Roudhoh. Dan diambil dari perkataan Imam Rafii dalam kitab ArRoudhoh disini dapat disimpulkan bahwa kaffarah-kaffarah yang wajib disini dengan sebab yang diharamkan, dan harus dilakukan segera.

Dan Imam Nawawi juga menjelaskan dalam kitab Syarkh Muslim berkenaan dengan hadits tentang orang yang bersetubuh di bulan Ramadhan, bahwa kaffarahnya boleh dilakukan secara bertempoh.

Dan yang jelas mengenai orang yang bersetubuh di bulan Ramadhan terdapat banyak khilaf dalam masalah hukumnya. Kalau memang sudah sulit bagi orang yang mendzihar untuk memerdekakan budak, barulah ia boleh membayar kaffarah dengan berpuasa.

Dari permasalahan ini terdapat beberapa qaul berpendapat : Qaul Adzhar berpandapat bahwa untuk menyegerakan melaksanakannya, disebabkan kaffarah itu adalah ibadah yang mempunyai ganti dari jenisnya yang lain.

Oleh karena itu, yang dianggap gampang atau sulit mengenai kaffarah ialah ketika hendak melaksanakannya, sama halnya dengan wudhu, tayammum, berdiri, dan duduk dalam shalat. Berdasarkan pengertian ini, jikalau seseorang yang mendzihar isterinya itu kaya, maka wajib atasnya ialah memerdekakan budak, dan jika seseorang tersebut susah, maka yang wajib atasnya adalah berpuasa, meskipun ia 4 " " sebelumnya kaya. Ketika ia telah memulai puasa tersebut, dan dalam pertengan dia tiba-tiba mendadak menjadi kaya, maka ia boleh meneruskan puasanya, dan tidak wajib beralih kepada kaffarah untuk memerdekakan budak menurut qaul yang Ashah.

Tetapi Al-Muzani mengatakan bahwa ia wajib beralih. Berdasarkan qaul yang shahih mengenai bolehnya berpindah dari puasa, ada dua wajah, sama seperti dua wajah berkenaan dengan melihat air ketika dalam keadaan shalat, maka bukan fardhunya yang gugur melainkan tayammumnya. Cabang Permasalahan Apabila sudah diwajibkan puasa, maka orang yang membayar kaffarah itu wajib berniat puasa pada setiap malam, dan tidak wajib menentukan tayin kaffarah yang dimaksud, juga tidak wajib berniat puasa berturut-turut, menurut qaul yang ashah, karena puasa itu sendiri wajib berturut-turut sebgaimana telah ditentukan oleh nash Al-Quran Al-Adzim.

Jikalau orang yang mendzihar itu bersetubuh sebelum puasanya selesai, maka ia berdosa, dan perbuatannya tersebut tidaklah menjadi suatu pemutus akan puasanya yang berturut-turut itu. Kalau ia berbuka satu hari, sekalipun hari yang terakhir dari hari-hari puasanya, maka ia wajib memulai semula semua puasanya lagi. Dan kalau ia tidak tahan menahan lapar, lalu berbuka, maka rusaklah puasanya yang berturut-turut itu. Dan juga lupa berniat pada suatu malam, kemudian memutuskan puasa yang berturut-turut dengan merubahnya dengan meninggalkan niat dengan sengaja.

Dan kalau dia ragu-ragu pada suatu hari sesudah selesai puasanya, misalnya dia ragu apakah ia berniat ataukah tidak, maka tidak wajib ia memulai lagi puasanya dari mula menurut qaul yang shahih, dan ragu-ragu tidak ada pengaruhnya sesudah selesai puasa pada hari itu. Demikian ArRuyani menyebutkan. Tidak berpuasa karena sakit, juga dapat memutuskan puasa berturut-turut, menurut qaul yang adzhar, karena sakit itu tidak mengangkat puasa.

Berbeda dengan gila, ada salah satu qaul mengatakan bahwa gila seperti sakit dan pingsan juga dikatakan seperti gila. Kalau sedang dalam perjalanan ada khilaf. Salah satu qaul mengatakan bahwa bepergian itu seperti orang sakit, dan salah satu qaul yang lain mengatakan bahwa puasa itu pasti terputus disebabkan karena bepergian, oleh karena itu bepergian itu berlaku dengan kemauannya sendiri. Demikian diberitakan oleh Imam Rafii dan Imam Nawawi.

Dan pada kesimpulannya, menurut madzhab bahwa puasa berturut-turut itu boleh terputus sebab berbuka dalam perjalanan bepergian. Memberi makan Barangsiapa yang tidak berkuasa berpuasa sebab ia sangat tua, sakit, menanggung keberatan tidak berupaya , takut penyakitnya bertambah parah, atau yang lainnya. Maka ia boleh membayar kaffarah dengan memberi makan, sesuai hujjah dalil sebelumnya.

Apakah disyaratkan atau tidak bagi seorang yang sakitnya tak diketahui sembuhnya? Kata sebagian golongan ulama mengatakan disyaratkan.

FM 9-8000 PDF

Terjemahan Kifayatul Akhyar

Merupakan salah satu kitab fikih yang sangat populer di negeri kita. Banyak dijadikan sebagai kurikulum pendidikan di berbagai pesantren, serta karena banyaknya keunggulan kitab ini para ulama dan intelektual muslim berusaha menterjemahkannya ke berbagai bahasa, di antaranya adalah bahasa Indonesia, Malaysia, Thailand, Inggris, Perancis dan lainnya. Metode penulisan kitab ini pun dibuat sangat sederhana, dimana matan al-Ghayah wa at-Taqrib ditulis di bagian atas, lalu di bawahnya ada penjelasan yang merupakan kitab Kifayatul Akhyar ini. Selain yang telah disebutkan di atas, di antara keistimewaan lainnya adalah: Pertama, penjabaran syarah dalam kitab ini disampaikan secara ringkas namun mencukupi kebutuhan thalibul ilmi untuk mempelajari fikih dari dasar. Seperti kitab-kitab fikih lainnya, diawali dengan bab thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, wasiyat, perwarisan, perkawinan, dan diakhiri dengan bab pembebasan. Kedua, dalam penjelasannya disertakan dalil-dalil yang terkait dengan permasalahan yang dibahas.

JACARANDA PHYSICS 2 HSC COURSE PDF

KIFAYATUL AKHYAR PDF

.

KOBELCO 7055 PDF

Kifayatul Akhyar

.

DUNGEON DENIZENS REVISITED PDF

.

Related Articles