PEDANG PELANGI SRIWIDJONO PDF

Ujung pedang Siau In tiba-tiba tergetar ke samping! Dalam situasi yang sangat gawat itu, ternyata Souw Thian Hai tidak dapat tinggal diam! Seleret sinar putih terlepas dari ujung jarinya dan menghantam pedang Siau In! Demikian kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari tangan Siau In. Benarkah Locianpwe ini?

Author:Vigul Mauzuru
Country:Malawi
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):26 June 2019
Pages:250
PDF File Size:18.97 Mb
ePub File Size:8.20 Mb
ISBN:661-7-87455-196-7
Downloads:43638
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gardagis



Aku tidak bermaksud melukai adikmu itu. Dialah yang mendesak aku. Aku telah berusaha mencegahnya tadi. Tapi dia tak mau mendengar perkataanku. Kau jangan ikut-ikutan melawan aku. Lebih baik kaupikirkan lukanya itu. Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menjadi merah mukanya.

Sambil menggeram pendekar itu menatap wajah Tiauw Kiat Su. Sama sekali tidak mau menghargai orang lain. Sudah kukatakan bahwa wanita muda itu telah pergi, kalian tidak mau percaya juga. Tampaknya kalian ini memang ingin mencari gara-gara Nadanya sangat menyakitkan hati. Kenapa tidak kaukatakan juga dimana perempuan itu berada?

Kaukira cuma engkau saja yang berhak memiliki Ceng-liongong itu? Ternyata habis juga kesabaran pendekar sakti itu. Wajahnya menjadi merah. Tapi dengan demikian pengaruh asap hitam yang diisapnya tadi justru semakin menjadi-jadi malah. Matanya terasa berkunang-kunang, sehingga tubuhnya yang tinggi besar itu tampak bergoyang-goyang mau jatuh.

Asap hitam itu mengandung racun Pendekar dari Pulau Meng-to itu memandang dengan curiga. Jilid 13 Souw Thian Hai mengibas-ngibaskan kepalanya lagi, seolah-olah ingin membuang rasa pening itu dari kepalanya. Tapi kesempatan itu tak disia-siakan oleh Tiauw Kiat Su. Kipas bajanya yang tajam bagai pisau cukur itu terbuka dan menyambar ke depan dengan dahsyatnya.

Yang dituju adalah perut dan dada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Meskipun belum hilang rasa peningnya, tapi Souw Thian Hai masih bisa mengelak dan menghindar dengan tangkasnya.

Malahan untuk mempersingkat waktu pendekar sakti itu segera membalas pula dengan tak kalah sengitnya. Langsung dengan salah sebuah ilmu warisan Keluarga Souw yang terkenal, yaitu Tai kek Sin-ciang! Kedua buah tangan pendekar sakti itu bergantian menyerang. Dan masing-masing tangan bergerak dan bersilat dengan cara yang berbeda, seakan-akan satu sama lainnya tidak ada hubungannya sama sekali. Malahan tenaga sakti yang keluarpun juga tidak sama pula. Keduanya bergantian berhembus di dalam arena, sehingga Tiauw Kiat Su menjadi repot melayaninya.

Masakan dua buah ilmu yang berlainan dimainkannya secara berbareng! Ilmu Keluarga Souw memang sangat hebat! Ilmu seperti itu saja dibilang hebat? Picik benar! Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lo-jin berputar dengan cepat. Tapi tak seorangpun berada di dekat mereka. Begitu pula ketika keduanya melemparkan pandang mata mereka ke sekeliling perahu besar itu.

Tak seorangpun dari para penonton itu yang patut mereka curigai. Tak enak rasanya kalau hanya menonton pertempuran orang. Rasanya gatal juga tanganku untuk ikut meramaikannya.

Syukurlah kalau ada yang datang. Kalau tidak Kau cacing tua dari Bing-kauw ini hendak melawan aku? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang tercantum namanya di dalam Buku Rahasia saja tak mampu melawan aku, apalagi Tapi seperti biasanya orang tua itu selalu menyembunyikan perasaannya di balik suara ketawa dan sumpah serapahnya! Pengecut keparat! Bisanya cuma bersembunyi dan ketakutan di dalam tanah! Mengapa kau tidak lantas keluar ke sini dan..

Namun orang-orang itu segera tenggelam kembali ke dalam pertempuran Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Beberapa orang diantaranya terdengar menggerutu begitu melihat Put-ceng-li Lo-jin.

Tapi sekali lagi orang-orang itu dikejutkan oleh sesosok bayangan yang melesat ke atas perahu besar tersebut. Bayangan itu mendarat dengan tergopoh-gopoh di depan Putceng- li Lo-jin. Dan di depan ketua Bing Kauw tersebut bayangan itu masih sibuk menaikkan celananya yang belum terpakai secara benar. Kurang ajar…..!

Aku tak menyebut namamu? Ketua Bing-kauw itu tak bisa menahan senyumnya. Begitu pula dengan Put ming-mo dan Keh-sim Siauw-hiap yang berada di dekatnya.

Aku memang menyebut tentang monyet, tapi bukan Monyet Tua Tak Berbulu macam kau ini, heh-heh-heh! Bukan aku? Huh, bangsat! Monyet tua bau terasi! Orang baru enak-enaknya memberi santapan pagi kepada ikan ikan di telaga Tapi ketua aliran Bing-kauw itu tidak menjadi marah karenanya. Sebaliknya mulutnya justru tertawa semakin lebar malah. Bukankah su-heng tadi hendak.. Maka begitu tercebur dalam air, maksud itu segera dilanjutkannya! Bukanlah hal itu sama saja dengan memberi sarapan pagi kepada ikan-ikan itu?

Bangsat keparat! Monyet tua tak berbulu! Ternyata Put-pai-siu Hong-jin sendiri juga tak bisa menahan ketawanya pula. Bibirnya yang lebar dan tebal itu terbuka lebar-lebar. Namun suara ketawanya tiba-tiba berhenti lagi, seakan-akan ada sesuatu hal yang mendadak melintas di dalam otaknya. Ikan itu bentuknya lebih besar dari pada yang lain. Mempunyai tangan dan kaki Matanya yang kocak itu memandang Put-ceng-li Lo-jin dan Keh-sim Siau-hiap bergantian. Eh, masakan di dalam danau ini ada ikan Duyung?

Sama sekali tak mempercayai perkataan suhengnya. Danau ini tak ada Ikan Duyungnya. Misalnya ada juga takkan mau menyantap sarapan pagimu itu. Mungkin justru engkau sendirilah yang malah diseretnya ke dasar danau ini.

Ikan yang kulihat itu pakai kumis dan jenggot, Tolol! Dan ikan itu memang berusaha menyeret aku ke dasar danau ini! Untung aku cepat berontak dan Kalau tidak, aku mungkin sudah betul-betul diseretnya! Kalau Put-ming-mo tetap tidak percaya akan kata-kata suhengnya, ternyata tidak demikian halnya dengan gurunya. Put-ceng-li Lo-jin yang baru saja diganggu orang dengan ilmu Coan-im-jib bit itu mempunyai tanggapan lain atas cerita keponakan muridnya tersebut.

Dimanakah kau melihat ikan aneh itu? Ketua Aliran Bing-kauw itu tersenyum. Su-siok lebih pintar darimu, Babi Tolol! Kau memang tidak pernah percaya kepadaku! Itulah sebabnya kau tak pernah maju dalam ilmu silat kita Di belakang perahu ini Kalau begitu mari kita lihat ke sana!

Mungkin benda yang disebut ikan aneh oleh Bocah Sinting itu adalah orang yang berbicara dengan ilmu Coan-imjib- bit itu. Jangankan hanya pemuda congkak itu, biarpun mereka bertiga maju semuanya, Souw Tai-hiap takkan kalah! Pendekar dari Pulau Meng-to itu menghela napas.

Dimana tempatnya? Di belakang sampan kecil itu!

ANATOL BASARAB CARTI PDF

Download Cerita Silat Mandarin

.

LIBRO DE SWOKOWSKI CALCULO INTEGRAL PDF

Cersil Mwb Pendekar Pedang Pelangi

.

CHARTISMO FOREX PDF

.

Related Articles